Keunggulan dan kelemahan bitcoin

Keunggulan dan kelemahan bitcoin

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

Bookmark
Bagikan

course

Waktu baca: 7 menit

Mengenal Ekosistem Polkadot

Polkadot adalah ekosistem yang unik lantaran memiliki jaringan blockchain yang bercabang-cabang. Yuk, pelajari Polkadot di sini!

Table of Contents

Jaringan Polkadot ditujukan untuk menjadi jaringan blockchain dari beberapa jaringan blockchain lainnya, yang disebut parachain, yang didesain sesuai tujuannya masing-masing. Karena parachains tersebut punya fungsi masing-masing, maka operasinya terbilang lebih efisien sehingga skalabilitas jaringan pun terbilang lebih mantap.

Karena satu parachain terhubung dengan parachain lain, maka masing-masing di antaranya bisa berbagi data antara satu dengan lainnya. Hal ini memungkinkan masing-masing parachain punya sifat interoperabilitas yang tinggi dengan sesamanya.

Sejarah Polkadot

Polkadot diciptakan oleh salah satu penemu dan mantan Chief Technology Officer (CTO) Ethereum Gavin Wood pada 2016. Setahun kemudian, ia mendirikan Web3 Foundation, yakni lembaga yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi web terdesentralisasi, termasuk Polkadot.

Versi pertama Polkadot meluncur pada 2019 dengan nama Kusama, yakni sebuah jaringan ujicoba (canary network) Polkadot. Jaringan Kusama berfungsi sebagai ajang pembuktian keandalan teknologi Polkadot dengan insentif ekonomi yang nyata.

Polkadot mencatat blok awal, alias blok genesis, pada Mei 2020 menggunakan algoritma konsensus Proof-of-Authority. Namun, jaringan ini kemudian beralih memanfaatkan jaringan Proof-of-Stake sebulan setelahnya.

Parachains pertama bernama Rococo hadir di jaringan Polkadot pada Desember 2020. Parachain Rococo didesain untuk menguji proses algoritma konsensus parachain sekaligus mengukur keandalan interaksi antar parachain.

Adapun parachain berikutnya hadir di Polkadot pada November 2021, sementara parachain di Kusama hadir lima bulan sebelumnya.

Mengapa Polkadot Unik?

Untuk memahami kekuatan jaringan Polkadot, Sobat Cuan perlu memahami konsep "jaringan blockchain yang terdiri dari blockchain" yang menjadi semangat utama dari jaringan Polkadot.

Berbeda dengan Ethereum dan jaringan blockchain lapisan 1 lainnya, Polkadot memiliki banyak parachain yang terhubung ke satu blockchain utama, yang umum disebut dengan Relay Chain.

Tapi, mengapa Polkadot memilih sistem jaringan bercabang-cabang seperti ini? Jawabannya, agar jaringan Polkadot memiliki fungsi interoperabilitas dan skalabilitas yang mumpuni. Berikut penjelasannya!

1. Punya Fungsi Interoperabilitas Mumpuni

Fungsi interoperabilitas, alias kemampuan satu jaringan untuk berbagi sumber daya dengan jaringan lain, memang dimiliki oleh jaringan lain, misalnya Ethereum. Namun, fungsi interoperabilitas Polkadot dianggap lebih canggih karena terdiri dari parachain yang masing-masing memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Sehingga, komunitas kripto bisa terus menciptakan inovasi-inovasi teknologi berbasis smart contract baru di atas jaringan tersebut.

Nah, sistem interoperabilitas Polkadot ini sejatinya memecahkan masalah yang selama ini dihadapi oleh jaringan blockchain yang mengedepankan smart contract.

Sekadar informasi, penggunaan platform smart contract terbilang booming sepanjang 2021. Apalagi, komunitas kripto pun getol mencari alternatif jaringan Ethereum setelah jaringan gas fees jaringan tersebut semakin mahal seiring waktu. Alhasil, mereka pun merangsek ke jaringan seperti Binance Smart Chain, Solana, Avalanche, hingga Fantom.

Meski adopsi smart contract terbilang marak, terdapat satu sisa masalah yang dihadapi oleh seluruh jaringan tersebut. Yakni, kurangnya fungsi interoperabilitas di antara mereka. Dengan kata lain, masing-masing platform berbasis smart contract yang berdiri di atas jaringan tersebut tidak bisa berkomunikasi atau berbagi informasi satu sama lain.

Sebagai analogi, Sobat Cuan bisa mengibaratkan kondisi blockchain saat ini dengan perangkat komputer sebelum internet. Memang, komputer tersebut terbilang canggih karena bisa melakukan segala hal. Namun, nilai guna komputer-komputer tersebut terbilang terbatas karena tidak terhubung dengan internet. Bayangkan jika mereka terhubung dengan internet, tentu komputer tersebut bisa digunakan untuk berinovasi dan menciptakan peluang bisnis baru, kan?

Nah, Polkadot ingin menempatkan diri sebagai jaringan "internet" yang menghubungkan masing-masing komputer tersebut. Sehingga, potensi teknologi blockchain di masa depan bisa terbuka lebar. Bahkan, bukan tidak mungkin teknologi blockchain akan melahirkan inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

2. Skalabilitas Teruji

Salah satu keunikan Polkadot lainnya adalah skalabilitas jaringan yang andal. Hal ini terjadi karena jaringan Polkadot menghubungkan beberapa jaringan blockchain sekaligus, di mana masing-masing jaringannya punya maksud dan tujuan yang khusus.

Sebagai contoh, jaringan Polkadot memiliki parachain yang khusus mengurus keuangan terdesentralisasi, serta jaringan yang mengurus gaming. Seluruhnya terhubung dengan relay chain, sehingga masing-masing di antaranya bisa bertukar data dan informasi. Hal ini cukup berbeda dengan Ethereum, di mana satu jaringan utamanya mengurus berbagai kepentingan dalam waktu bersamaan.

Sebagai analogi, anggap bahwa jaringan Polkadot sebagai sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional. Logikanya, perusahaan tersebut tentu harus berisikan karyawan yang masing-masing punya keahlian beragam daripada merekrut satu pegawai yang serba bisa namun punya hasil kerja yang b aja, kan?

Di bawah ini, Sobat Cuan bisa menengok contoh-contoh pemanfaatan jaringan blockchain Polkadot ke depan:

  1. Aktivitas smart contract di Ethereum bisa terhubung dengan sistem pembayaran di jaringan Bitcoin.
  2. Pertukaran antar blockchain dari ADA dengan SHIBA menggunakan smart contract tanpa membutuhkan platform exchange tersentralisasi.
  3. Satu oracle bisa menyalurkan data harga ke beberapa jaringan lapis 1 blockchain di waktu bersamaan.

Keunggulan dan Kelemahan Polkadot

Sama seperti jaringan blockchain pada umumnya, jaringan Polkadot pun punya keunggulan dan kelemahan sebagai berikut:

Keunggulan

  1. Menjadi solusi yang menghubungkan satu blockchain dengan blockchain lainnya.
  2. Memecahkan masalah interoperabilitas dan skalabilitas yang dialami blockchain lain.
  3. Pembaruan sistem tanpa memerlukan fork.
  4. Salah satu sistem jagoan firma modal ventura.

Kritik

  1. Biaya operasi parachain terbilang mahal.
  2. Masih banyak pertanyaan belum terungkap terkait penawaran koin perdana (Initial Coin Offering) dan identitas investor awal.

Bagaimana Cara Kerja Polkadot?

Sesuai dengan informasi di atas, Polkadot adalah jaringan yang terdiri atas parachains dengan algoritma Proof of Stake dan terhubung melalui satu ekosistem bernama relay chain.

Istilah-istilah ini mungkin membingungkan, tapi tidak ada salahnya jika kita memahaminya plus cara kerjanya lebih lanjut.

1. Relay Chain

Relay chain adalah jaringan utama Polkadot dan bertanggung jawab atas keamanan, konsensus, hingga fungsi interoperabilitas seluruh jaringan yang berada di atasnya. Jaringan utama ini memang didesain untuk punya fungsi seminimal mungkin, utamanya demi mengamankan dan mengoordinasi seluruh parachain di atasnya.

Seluruh validator jaringan Polkadot melakukan staking di atas Relay Chain menggunakan koin native yang disebut DOT. Para validator tersebut mengonfirmasi transaksi yang datang dari seluruh parachain.

2. Parachains

Parachains adalah lapisan 1 blockchain yang berdiri dan beroperasi secara mandiri, namun tetap terhubung ke jaringan Relay Chain. Setiap parachain punya fungsi dan tujuan yang spesifik, bahkan punya desain, fungsi, dan tata kelola yang berbeda satu sama lain.

Dengan terhubung ke Relay Chain, parachains berbagi aspek keamanan dengan jaringan utama Polkadot tanpa perlu membentuk komunitas validatornya tersendiri. Selain itu, dengan terhubung ke jaringan utama, masing-masing jaringan bisa tukar-menukar data tanpa hambatan.

Wood sendiri menganalogikan Polkadot sebagai sebuah kantor dan parachains adalah karyawan. Masing-masing karyawan tentu punya tugas dan tanggung jawab masing-masing. Namun, mereka mengoordinasikan kerja mereka satu sama lain dalam rapat rutin di Relay Chain.

3. Parathreads

Parathreads adalah parachains yang terhubung ke Polkadot dengan model "bayar langsung pakai" (pay as you go). Mereka memiliki hambatan masuk yang minim bagi blockchain dan bahkan tidak mengharuskan jaringan blockchain tersebut untuk terhubung ke jaringan utama secara terus menerus.

4. Bridges

Bridges adalah parachain khusus yang memungkinkan blockchain dan aplikasi di atas Polkadot untuk terhubung dan berkomunikasi dengan jaringan eksternal lapisan 1 lainnya seperti Ethereum dan Bitcoin.

Apa Gunanya Koin DOT

Koin DOT punya tiga fungsi utama yang terdiri sebagai berikut:

    demi menjaga keandalan operasi dan keamanan jaringan.
  1. Mengikat parachain kepada jaringan utama Polkadot.
  2. Menjaga tata kelola sistem Polkadot

Bagaimana Nasib Kusama?

Seperti yang telah disinggung di atas, Kusama adalah jaringan canary dari Polkadot. Yakni, jaringan uji coba yang ditawarkan ke segelintir pengguna agar proyek-proyek inovatif mereka bisa terealisasi dengan cepat. Selain itu, jaringan Kusama juga menandai persiapan Web3 Foundation dalam meluncurkan jaringan Polkadot.

Nama "canary" berasal dari jenis burung yang dulu sering "dikirim" penambang batu bara untuk mengukur kadar gas beracun di lokasi tambang batu bara. Nah, konsep ini serupa dalam blockchain, di mana ujicoba canary adalah cara bagi pengembang untuk memvalidasi keandalan piranti lunak bagi sekelompok orang saja.

Kusama dikenal sebagai jaringan blockchain yang "liar dan cepat". Dalam artian, jaringan ini cocok bagi pengembang untuk mewujudkan ide-ide gila dengan memanfaatkan teknologi blockchain.

Seperti yang dijelaskan di atas, Kusama diluncurkan pada 2019 dengan arsitektur dan inovasi yang mirip dengan Polkadot. Namun, tata kelola Kusama berbeda dengan Polkadot lantaran jaringan Kusama menggunakan token native-nya yang diberi nama KSM. Nah, lantas, bagaimana nasib Kusama setelah Polkadot meluncur?

Kini, masing-masing Polkadot dan Kusama telah berkembang secara independen sesuai dengan arahan masing-masing komunitasnya. Selain itu, segala pembaruan sistem di Polkadot pun kemungkinan besar akan diujicobakan di Kusama terlebih dulu. Sehingga, sistem Kusama tidak tersisihkan begitu saja.

Meski berawal sebagai jaringan ujicoba, Kusama kini punya pangsa pasarnya sendiri. Beberapa pengembang memutuskan untuk membangun proyeknya di Kusama karena biayanya terbilang lebih efisien ketimbang Polkadot, namun punya fungsi fundamental yang sama.

Sebagai analogi, anggap saja Polkadot adalah iPhone 13 Pro sementara Kusama adalah iPhone 13. Keduanya memang punya cara kerja dan aspek fundamental yang sama, namun beberapa pihak berpikir bahwa iPhone 13 Pro punya fungsi yang berlebihan dan tak begitu dibutuhkan segelintir penggunanya.

Selain itu, beberapa pengembang pun betah "tinggal" di Kusama karena proyek-proyek mereka tidak butuh tingkat keamanan dan stabilitas yang jitu seperti di Polkadot. Misalnya adalah Kilt, yakni sebuah proyek yang meluncur di Kusama namun tak punya niatan untuk menapak Polkadot.

Kendati demikian, proyek-proyek "level tinggi" dan punya nilai transaksi tinggi tetap minggat ke jaringan Polkadot.

Ke depan, jaringan Kusama bisa fokus pada proyek-proyek yang membutuhkan teknologi Polkadot namun tidak begitu membutuhkan tingkat keamanan yang mumpuni. Beberapa contohnya adalah proyek gaming, jejaring sosial, dan aplikasi distribusi konten. Selain itu, hanya proyek penting saja yang mampu memiliki parachain baik di Polkadot dan Kusama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *